Muzz Blog | relationships | Stuck Pas PDKT sama Crush? Cari Tahu Attachment Style Kamu di Sini!

Stuck Pas PDKT sama Crush? Cari Tahu Attachment Style Kamu di Sini!

April 13, 2026

Blog banner Image

Pernah nggak, kamu lagi deket sama seseorang, mungkin kenalan dari aplikasi cari jodoh, trus tiba-tiba muncul pikiran, “chatku bikin dia ilfeel nggak ya?” atau “ah paling dia ngomong gitu biar aku seneng aja.” Ujung-ujungnya, percakapan jadi mati, nggak seru, bahkan berakhir di-ghosting.

blog banner phone leftblog banner phone right

Looking for your soulmate?

You won’t find your soulmate on this blog post but you might find them on Muzz - the world’s biggest Muslim dating and marriage app.

muzz

Kalau kamu pernah ngerasain ini, bisa jadi masalahnya bukan di calon pasangan kamu. Bisa jadi, kamu belum sepenuhnya kenal sama diri sendiri — khususnya soal attachment style, alias gaya kamu dalam menjalin hubungan.


Apa Itu Attachment Style?

Attachment style, atau pola kelekatan, adalah cara seseorang berinteraksi dan bersikap dalam hubungan — baik pertemanan maupun romantis — yang terbentuk sejak masa kecil berdasarkan pola pengasuhan. Singkatnya, cara orang tua atau wali kita mengasuh dulu sangat berpengaruh pada cara kita berhubungan dengan orang lain hingga sekarang.

Secara umum, ada 4 tipe attachment style yang perlu kamu ketahui:

  1. Secure Attachment Style
  2. Anxious/Preoccupied Attachment Style
  3. Avoidant/Dismissing Attachment Style
  4. Fearful-Avoidant/Disorganized Attachment Style

Yuk, kita bahas satu per satu.


1. Anxious Attachment Style: Selalu Cemas di Hubungan

Kalau kamu sering merasa cemas dan khawatir berlebihan dalam hubungan, kemungkinan besar kamu punya anxious attachment style.

Orang dengan tipe ini umumnya sangat takut ditolak atau ditinggalkan. Akibatnya, mereka cenderung bersikap clingy, mudah cemburu, dan terus-menerus butuh diyakinkan bahwa dirinya dicintai. Tanda-tanda lainnya: sering menghapus chat sebelum dikirim karena takut salah, overthinking soal balasan, dan rentan terjebak dalam situasi HTS atau situationship, justru karena terlalu takut kehilangan.

2. Avoidant Attachment Style: Susah Dekat dengan Orang Lain

Di sisi yang berlawanan, ada orang yang terlihat sangat mandiri dan enggan membiarkan orang lain masuk terlalu dalam ke hidupnya. Inilah ciri khas avoidant attachment style.

Tipe ini biasanya terbentuk dari pola asuh yang tidak mengizinkan ekspresi emosi secara bebas. Menariknya, orang avoidant bisa terlihat supel dan mudah bergaul, namun hubungan yang mereka jalin cenderung dangkal. Ketika seseorang mulai terlalu dekat, mereka akan menjauh. Saat konflik emosional muncul, mereka memilih diam dan menarik diri.

3. Fearful-Avoidant Attachment Style: Mau Dekat, tapi Takut Terluka

Tipe ini adalah gabungan dari anxious dan avoidant, ingin dicintai, tapi takut terluka. Inilah yang disebut fearful-avoidant atau disorganized attachment style.

Orang dengan tipe ini meragukan kasih sayang orang lain karena keyakinan kuat bahwa mereka akan dikecewakan. Akibatnya, justru saat hubungan mulai terasa dalam dan nyaman, mereka malah menarik diri, bahkan memutuskan hubungan tanpa alasan yang jelas. Perilaku ini bukan karena tidak peduli, tapi karena mereka sangat takut tersakiti.

4. Secure Attachment Style: Fondasi Hubungan yang Sehat

Kalau kamu merasa nyaman bergantung pada pasangan, mampu mengekspresikan kebutuhan dengan tenang, dan tetap percaya diri meski sedang tidak punya pasangan? Kamu kemungkinan punya secure attachment style.

Orang dengan tipe ini bisa menyampaikan masalah dengan kepala dingin saat konflik, nyaman dengan kedekatan emosional, dan senang berbagi hal-hal personal dengan orang yang mereka percaya. Hubungan mereka cenderung lebih stabil dan bermakna.


Walaupun Begitu, Attachment Style Bisa Berubah

Attachment style memang terbentuk dari masa lalu, tapi bukan berarti kamu terjebak selamanya. Kamu punya kendali untuk berkembang dan membangun hubungan yang lebih sehat.

Berikut beberapa langkah yang bisa kamu mulai:

  • Refleksi diri. Coba kilas balik cerita-cerita lamamu. Adakah pola yang terus berulang dalam hubunganmu?
  • Latih komunikasi yang jujur. Sampaikan perasaan dengan tenang, dan berani jujur soal keinginan serta kebutuhanmu.
  • Cari bantuan profesional. Kalau kamu merasa terus “jatuh di lubang yang sama” meski sudah berusaha, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog. Itu bukan tanda kelemahan, justru itu langkah berani menuju versi terbaik dirimu.

Karena sehat bukan hanya soal fisik, tapi juga mental. Termasuk cara kita memilih dan menjalani hubungan.


Artikel ini ditulis oleh Mohammad Andri Khaeranu, M.Psi., Psikolog, atas kerja sama Biro Psikologi Attentive dan Muzz Indonesia.

Jika kamu masih dalam pencarian jodoh yang seiman dan sefrekuensi, Muzz ada untukmu! Dengan 16 juta pengguna Muslim di seluruh dunia, dan tersebar di 190 negara, Muzz berhasil mempertemukan 800 ribu pasangan dengan jodohnya dan menikah. Download Muzz di App Store atau Playstore, jemput jodohmu sekarang.

Aplikasi Pernikahan Muslim
Muslim Lajang
Aplikasi Muslim Lajang
Pernikahan Muslim
Kencan Islami
Muslim Shia
Muslim Sunni
Kencan Muslim
Cinta orang Arab
Obrolan Berbahasa Arab
Aplikasi kencan Muslim
Kencan berbahasa Arab