Muzz Blog | relationships | Jodoh: Misteri yang Lucu dan Melelahkan

Jodoh: Misteri yang Lucu dan Melelahkan

May 6, 2026

Blog banner Image

Ditulis oleh: Sholah Ayub

blog banner phone leftblog banner phone right

Looking for your soulmate?

You won’t find your soulmate on this blog post but you might find them on Muzz - the world’s biggest Muslim dating and marriage app.

muzz

Mendengar cerita dari semua teman-teman yang belum bertemu jodohnya rasa nya selalu sendu.

Meskipun dari luar mereka selalu mengatakan bahagia meskipun masih sendiri, tetap saja ada rasa sepi yang tidak bisa ditutupi.

Ada yang ditinggal nikah incarannya, lalu mengincar yang lain, ditinggal nikah lagi. Ada pula yang ditolak berkali-kali. Ada juga yang terus merasa dirinya belum siap, sehingga perempuan yang menurutnya menarik hampir sudah tidak ada. Akhirnya semua berakhir pada kesimpulan yang mirip, yaitu “apa aku tidak usah menikah saja ya”.

Betul kok, bahagia itu tidak harus melalui pernikahan. Akan tetapi mau bagaimanapun menikah adalah fitrah, dan ketika sebuah fitrah tidak terlaksana, pasti akan ada rasa yang hilang. Kamu bisa saja bahagia tanpa menikah, tapi kamu pasti akan merasa kesepian, bukan berarti salah, sebab itu hanyalah fitrah.

Diri yang belum siap, tanda harus terus memperbaiki diri, bukan menyerah pada diri sendiri. Akan tetapi, untuk yang belum menemukan rasa cintanya, atau yang cintanya begitu spesifik, mari kita coba merenung lagi akan kata cinta. Sebuah alasan begitu indah yang justru menahan seseorang bertemu dengan jodohnya.

Tahukah kamu, secara statistik angka perceraian dari pernikahan hasil perjodohan hanya sekitar 4-5%, sementara perceraian dari pernikahan atas dasar “cinta” bisa mencapai 40-50%*?

Memang banyak faktor lain yang menentukan, seperti tekanan sosial dan budaya sekitar, dukungan keluarga yang kuat. Namun, ada satu faktor lain yang layak kita ambil hikmahnya, yaitu ekspektasi yang realistis.

Common-sense kita pasti mengatakan, menikah karena dijodohkan itu menyeramkan. Jangankan cinta, dia saja tidak mengenal calon pasangannya. Meskipun terdengar suram, namun dari sini juga ada hal lain yang tidak kita duga menghilang, yaitu ekspektasi akan pasangan.

Menikah karena cinta memang terdengar begitu manis, tetapi ada efek samping yang sering diremehkan. Perasaan yang membuncah akan pasangan melumpuhkan akal sehat kita, mengaburkan penilaian kritis kita, dan mendorong untuk menutupi karakter asli kita. Kombinasi sempurna untuk menciptakan kondisi ekspektasi yang melambung tinggi, dan realita yang terkubur dalam-dalam.

Jadi seperti paradoks. Perjodohan yang terlihat suram, justru membuat ekspektasi kita serealistis mungkin. Cinta yang harusnya indah, justru melambungkan ekspektasi, menggiring pada jurang kekecewaan yang begitu dalam.

Jangan salah, bukan berarti menikah karena dijodohkan pasti bahagia, dan menikah karena cinta pasti menderita. Bukan itu poin utamanya, akan tetapi bagaimana kita mengelola ekspektasi ke pasangan dan masa depan rumah tangga kita.

Mau dijodohkan atau cinta, kelak semua menghadapi tantangan yang sama. Ekspektasi di awal lah yang menentukan. Bagaimana kita tidak begitu mengharapkan apapun dari pasangan. Justru lebih fokus pada diri sendiri, apa yang bisa kita beri, dan tahu kebahagiaan datangnya dari diri sendiri.

Mau sesempurna apapun kelihatannya calon pasangan kita, yang namanya konflik atau krisis dalam rumah tangga tetap niscaya.

Menunda mencari pasangan sampai bertemu dia yang memenuhi semua kriteria kita secara sempurna, dengan harapan rumah tangga nanti bahagia dan baik-baik saja, adalah sebuah ekspektasi menipu yang tidak realistis.

Jika sudah di titik ini, alangkah baiknya kita menggeser sedikit makna cinta. Cinta itu bukanlah alasan, tetapi akibat. Jika kamu melihat begitu banyak yang berpisah padahal berawal dengan cinta, maka lihatlah banyaknya yang berakhir saling mencinta, padahal awalnya biasa saja.

Menikah itu lebih banyak tentang pilihan rasional, daripada perasaan membuncah “she/he’s the one”. Visi, misi, kesiapan mental, jiwa, karakter, komunikasi, emosi, materi, dan lain-lain. Tidak perlu sempurna, cukup selayaknya manusia baik saja.

Teruslah mempersiapkan diri, memperbaiki jiwa, mengasah kesadaran diri, sebab itulah PR utama sebelum menemukan jodoh.

Jika belum bertemu juga, mungkin Allah memberimu waktu lebih untuk terus memperbaiki diri, atau kita saja yang masih berharap dengan seseorang, sedang Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik yang belum kita ketahui.

..yang pasti ketahuliah, ketetapan Allah setelah kita berusaha keras, adalah yang terbaik.


Itulah salah satu alasan mengapa aplikasi Muzz ada. Bertemu jodoh tidak perlu menanti-nanti sekenario langka untuk mempertemukan dua manusia. Semua disederhanakan dengan orientasi keseriusan dan pertimbangan rasional.

Coba download Muzz sekarang sebagai salah satu ikhtiar terbaik menjemput jodoh, melaksanakan ibadah, dan menunaikan fitrah kita sebagai hambaNya. Semoga Allah mudahkan ✨

*https://www.nbcnews.com/better/pop-culture/why-you-should-treat-marriage-more-business-ncna778551

Aplikasi Pernikahan Muslim
Muslim Lajang
Aplikasi Muslim Lajang
Pernikahan Muslim
Kencan Islami
Muslim Shia
Muslim Sunni
Kencan Muslim
Cinta orang Arab
Obrolan Berbahasa Arab
Aplikasi kencan Muslim
Kencan berbahasa Arab