
Ramadan di Indonesia vs Malaysia: Tradisi Unik yang Menghidupkan Bulan Puasa
February 27, 2026


Bagi banyak orang, Ramadan terasa akrab di mana pun dijalani. Menahan lapar sejak fajar, menunggu adzan maghrib, lalu berbuka bersama orang terdekat. Namun saat Shah Zakaria merasakan langsung Ramadan di Indonesia dan Malaysia, muncul nuansa berbeda dalam keseharian yang dijalani.


Looking for your soulmate?
You won’t find your soulmate on this blog post but you might find them on Muzz - the world’s biggest Muslim dating and marriage app.
Perbedaan itu hadir dari hal-hal kecil yang memberi warna tersendiri pada pengalaman berpuasa di masing-masing tempat.
Istilah berbuka yang sering dipakai
Di Indonesia, Ramadan membawa kosakata khas. “Bukber” bukan sekadar singkatan buka bersama, tetapi identik dengan ajakan berkumpul, reuni kecil, hingga momen mempererat hubungan.
Di Malaysia, penyebutannya lebih ringkas. “Jom berbuka” atau “iftor” digunakan tanpa banyak variasi, namun maknanya tetap sama: duduk bersama menikmati waktu berbuka.
Pilihan kata yang berbeda memperlihatkan cara kebersamaan dirasakan dalam budaya yang berbeda.
Hidangan manis yang selalu dicari
Menjelang adzan, makanan manis menjadi penenang setelah seharian berpuasa. Di Indonesia, kolak pisang lekat dengan suasana rumah melalui kuah santan hangat dan gula merah yang khas.
Di Malaysia, tepung pelita menjadi buruan di bazar Ramadan. Teksturnya lembut dengan perpaduan rasa manis dan gurih yang kuat menghadirkan kesan istimewa setiap tahun.
Meski bentuknya berbeda, namun keduanya sulit dilewatkan ketika waktu berbuka tiba
Suasana sahur yang menghidupkan malam
Di sejumlah daerah Indonesia, tradisi membangunkan sahur masih bertahan. Anak-anak berkeliling menabuh alat sederhana, menciptakan irama yang membuat malam terasa hidup.
Di Malaysia, kebiasaan serupa lebih banyak tinggal sebagai kenangan. Suasana sahur kini berlangsung tenang di dalam rumah tanpa keramaian jalanan.
Tradisinya pelan-pelan menghilang, menyisakan suasana sahur yang lebih tenang.
Keramaian bazar Ramadan
Malaysia dikenal dengan bazar yang panjang dan pilihan makanan yang sangat beragam. Menyusurinya terasa seperti perjalanan singkat penuh aroma dan warna.
Indonesia menghadirkan pemandangan serupa menjelang maghrib. Deretan jajanan, takjil, minuman segar, dan makanan hangat memenuhi pinggir jalan, ditemani obrolan ringan yang membuat waktu menunggu berbuka terasa singkat.
Keduanya menghadirkan kegembiraan yang khas di bulan puasa.
Cara menunggu maghrib
Di Indonesia, waktu sore diisi dengan ngabuburit. Jalan santai, berkumpul, atau sekadar menikmati suasana sebelum azan menjadi momen yang paling dirindukan.
Di Malaysia, menjelang berbuka lebih sering dihabiskan di rumah melalui tayangan religi atau program khas Ramadan yang menenangkan.
Menit-menit sebelum berbuka selalu punya rasa tersendiri.
Memperluas Kepedulian di Bulan Ramadan
Di mana pun dijalani, Ramadan menghadirkan kebersamaan, kesederhanaan, dan rasa syukur yang serupa. Pengalaman di dua negara justru menegaskan bahwa makna Ramadan tidak dibatasi wilayah.
Di sisi lain, masih ada saudara-saudara kita yang belum merasakan ketenangan yang sama. Karena itu, Ramadan juga menjadi waktu untuk memperluas kepedulian.
Melalui inisiatif dari Muzz, kamu dapat ikut mendukung pembangunan kembali fasilitas kesehatan di Sudan, wilayah dengan keterbatasan akses layanan medis. Dukungan ini diharapkan menghadirkan ruang perawatan yang lebih aman bagi masyarakat setempat, termasuk keluarga yang menjalani Ramadan dalam kondisi sulit.
Ramadan selalu mengajarkan bahwa kepedulian tidak berhenti di sekitar kita. Langkah kecil yang dibagikan hari ini bisa menjadi harapan besar bagi mereka yang membutuhkan. Semoga kebaikan yang ditanam di bulan ini terus mengalir membawa keberkahan.

